Selasa, 02 Oktober 2018

Ketika Kiai Hasyim dan Kiai Kholil Berebut Menjadi Murid


Sudah jadi pandangan umum jika di kalangan Nahdlatul Ulama(NU), K.H. Hasyim As’ari dipanggil dengan gelar “Hadratus Syaikh” (Maha Guru). Sebuah gelar istimewa yang sebenarnya bukanlah merupakan gelar sembarangan. Gelar ini tidak sama dengan gelar “kiai” yang bisa diperoleh karena kontribusi sosial di masyarakat. Gelar “Hadratus Syaikh” pada Kiai Hasyim didapat seperti halnya gelar akademik.
Dari keterangan K.H. Ahmad Muwafiq, yang biasa disapa dengan Gus Muwafiq, pada haul Gus Dur ke-4 pada 4 Oktober 2015 di Pondok Pesantren, Jombang, gelar ini disandang Kiai Hasyim saat lulus dari pendidikan ilmu hadis di Mekah. Bahkan Kiai Hasyim merupakan satu-satunya ulama dari Asia pada era itu yang menyandang gelar “Hadratus Syaikh”.
Saat itu, gelar “Al-Faqih” dipersembahkan untuk orang yang hapal 2.000 hadis soheh(benar), gelar “Assyaikh” hapal semua hadis dari riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim,  sedangkan gelar “Hadratus Syaikh” adalah gelar untuk penghapal “Kutubus Sittah”: Hapal hadis dari Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam Turmudzi, Imam Nasa’i, dan Imam Ibnu Majah.
Hal itulah yang membuat Kiai Muhammad Kholil Bangkalan, kiai legendaris yang merupakan guru dari banyak ulama, seperti  Kiai Ma’shum Lasem (ayah dari Kiai Ali Maksum Krapyak), Kiai Wahab Chasbullah Jombang, Kiai As’ad Syamsul Arifin Situbondo, Kiai Bisri Syansuri Jombang, Kiai Munawwir Krapyak, dan termasuk juga Kiai Hasyim Asy’ari, mendatangi mantan muridnya ke Tebuireng, Jombang.
Tentu saja kunjungan ini mengejutkan Kiai Hasyim Asy’ari. Dalam tradisi pesantren, tidak ada istilah “mantan santri”. Sampai akhir hayat, Kiai Kholil adalah guru bagi Kiai Hasyim. Untuk itulah segala hal dipersiapkan di Pondok Pesantren Tebuireng untuk menyambut tamu istimewa ini. Masalahnya, Kiai Kholil tidak sekadar berkunjung, melainkan ingin belajar kepada Kiai Hasyim yang memang sudah dikenal reputasinya sebagai ahli hadis—tidak hanya di Nusantara—melainkan juga di Asia.
Begitu Kiai Kholil datang ke Tebuireng, beberapa santri segera diperintah Kiai Hasyim untuk mempersiapkan kamar khusus untuk Kiai Kholil. Setelah semua persiapan beres, Kiai Hasyim dengan takzim segera mendekat ke Kiai Kholil.
“Kiai, mohon istirahatnya di kamar yang sudah dipersiapkan. Tidak usah tidur seperti santri-santri yang lain. Cuciannya juga nanti biar dicucikan, jangan mencuci sendiri,” kata Kiai Hasyim.
Dengan tersenyum Kiai Kholil membalas, “Hasyim, di sini saya datang sebagai santri sebagaimana santri yang lain. Jadi janganlah kamu istimewakan dan pisahkan dengan santri-santri yang lain. Di Pesantren Bangkalan, benar memang aku ini kiai kamu, kamu santriku, tapi di sini sebaliknya, kamu sekarang kiaiku dan aku ini santrimu.”
“Tapi, Kiai…” kata Kiai Hasyim kebingungan.
Membayangkan Kiai Kholil yang merupakan gurunya sendiri akan tidur bersama para santrinya, tentu saja Kiai Hasyim tidak tega. Meskipun Kiai Kholil sudah mengeluarkan perintah jangan menganggapnya sebagai guru di Pesantren Tebuireng, tapi bagi Kiai Hasyim, mau di manapun, Kiai Kholil adalah kiainya tidak peduli tempat atau tidak peduli status pada saat keduanya bertemu kali ini.
Setelah berpikir keras, akhirnya Kiai Hasyim punya ide. Ia datangi kembali Kiai Kholil di kamarnya.
“Kiai Kholil,” kali ini Kiai Hasyim mengeluarkan suara sedikit tegas dan keras.
“Apakah benar saya dianggap Kiai sebagai guru?” tanya Kiai Hasyim.
Kiai Kholil awalnya bingung, “Iya memang benar. Kamu adalah guru saya,” balas Kiai Kholil.
“Kalau begitu saya perintahkan Kiai Kholil untuk meninggalkan kamar ini dan segera pindah ke kamar yang sudah dipersiapkan. Berikut juga dengan makanan Kiai Kholil akan diantarkan ke kamar jadi Kiai Kholil tidak perlu ikut antre bersama santri yang lain, cucian juga akan dicucikan, tidak perlu antri kamar mandi. Ini bukan permintaan seorang santri kepada kiainya, tapi perintah seorang kiai kepada santrinya,” kata Kiai Hasyim.
Mendengar itu Kiai Kholil terkejut, lalu berdiri dan menuruti perintah “guru”-nya.


Minggu, 05 November 2017

Amalan, Ijazah dan sekaligus Karomah dari KH Hasyim Asy’ari

Amalan, Ijazah dan sekaligus Karomah dari KH Hasyim Asy’ari
1. Meneladani Rasulullah sebagai idola utama manusia, itu yang senantisa beliau wasiatkan bukan hanya kepada santri-santrinya tetapi juga kepada seluruh kaum muslimin.
 2. Semangat Jihad (membela agama dan bangsa), beliau adalah ulama yang mujahid (ahli jihad) yang negarawan dan memiliki patriotisme yang luar biasa. Hal ini bisa kita lakukan sesuai dengan kemampuan dan profesi kita masing-masing (Ulama, ustazd, guru, pegawai, pelajar, santri, pengusaha, pejabat, petani, nelayan dll). Jihad tidaklah harus berperang atau memikul senjata, segala bentuk perbuatan baik dan membawa manfaat serta mencegah segala bentuk perbuatan keji dan munkar itu sendiri juga merupakan suatu jihad.
 3. Menjaga Shalat lima waktu dengan berjamaah
 4. Beliau memiliki pribadi yang Ihklas dalam bertindak, termasuk ihlas melayani umat, masyarakat dan bangsa Indonesia ini
5. Pribadi yang santun, rendah hati (tawadlu), tidak suka menonjolkan diri, menampakkan diri
 6. Saling menghormati, suka bermusyawarah, tidak fanatik yang berlebihan merasa paling benar sendiri
 7. Membersihkan hati dan mensucikan niat didalam mengerjakan dan melakukan sesuatu (Nasehat beliau dalam kitab adabutta’lim wa mutaallim).
 8. Beliau adalah pribadi yang pekerja keras, memiliki semangat juang tinggi tanpa mengenal lelah dalam melakukan sesuatu (berjuang, belajar, bekerja, membantu/melayani Umat dll) termasuk dalam melayani umat dan bangsa Indonesia. Itulah karomah besar Hadratus Syaikh Muhammad Hasyim Asyari yang telah Allah anugrahkan kepada beliau, juga sekaligus ijazah yang beliau berikan kepada santri-santrinya dan seluruh kaum muslimin, agar bisa di amalkan dalam kehidupan sehari-hari didalam beragama, berkeluarga, bermsyarakat dan berbangsa. Terkadang kita sering sering terpesona oleh kekeramatan, kehebatan dan kesaktian beberapa ulama atau kyai tertentu. Contoh seperti kisah jika ada Kyai yang bisa mendatangkan rizki secara tiba-tiba, bisa berada di suatu tempat yang sangat jauh dalam sekejap mata, bisa juga berada dalam suatu tempat yang berbeda secara bersamaan, mengetahui akan kejadian masa lalu dan juga mengetahui kejadian-kejadian yang akan terjadi, bisa terbang, mampu berjalan di atas air dan masih banyak lagi lainya. Itu membuat kita terkagum-kagum, padahal semua itu tiada mustahil dan sangatlah mudah bagi Allah. Kalaulah kita lihat putra beliau KH. Abdul Wachid Hasyim dalam usia yang sangat muda sekitar 30 tahunan sudah menjadi ulama besar, pejuang dan negarawan, tokoh nasional dan internasional, dan juga menjadi pahlawan Nasional, beliau sangat di segani dan di hormati. KH. Abdul Wachid Hasyim meninggal dalam usia sangat muda 39 tahun. Mungkin karena sangat sayangNya Allah kepada beliau sehingga di dalam usia beliau yang masih sangat muda, Allah memanggil beliau untuk menghadap keharibaan-Nya,waallahu ‘alam Masih belum ada sampai sekarang ini tokoh, ulama/Kyai di Indonesia yang usianya sangat muda sekitar 30 tahunan sudah menjadi ulama besar sekaligus tokoh nasaional dan internasional kecuali hanya beliau sendiri KH. Abdul Wachid Hasyim. Rata-rata kebanyakan yang menjadi tokoh ulama/kyai besar di Indonesia jika usianya sudah mencapai hampir 60 tahunan. Menurut putri beliau Ibu Lily Khodijah Wachid, bahwanya beliau ini (KH. M Hasyim Asy’ari dan KH Abdul Wachid Hasyim) sangatlah layak di sebut waliNya Allah. KH. Abdurrahman Wachid atau Gus Dur adalah seorang ulama besar, seniman dan juga negarawan sejati. Sebagian besar orang-orang sholihin mengatakan jikalau Gus Dur ini “Waliyullah” karena memiliki banyak kelebihan dan kemampuan luar biasa. Itu baru anak dan cucunya apalagi kakeknya Hadratus Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari, bahkan guru beliau sendiri KH. M kholil yang banyak ulama mengatakan jika beliau itu qutbul aqtobnya tanah Jawa sangat menghormati beliau KH. M Hasyim Asy’ari.

Semangat Jihad KH Hasyim Asy’ari

Semangat Jihad KH Hasyim Asy’ari Tepat pada tanggal 21-22 Oktober 1945, KH Hasyim Asyari mengumpulkan wakil-wakil dari cabang NU di seluruh Jawa dan Madura di Surabaya. Dalam pertemuan tersebut, diputuskan bahwa melawan penjajah sebagai perang suci dan hukumnya fardu ain. Saat ini populer dengan istilah resolusi jihad. Setelah resolusi jihad dicetuskan, ribuan kyai dan santri bergerak ke Surabaya. Pada 10 November 1945 atau tepatnya dua minggu setelah resolusi jihad dikumandangkan, meletuslah peperangan sengit antara pasukan Inggris melawan tentara pribumi dan juga warga sipil yang cuma bersenjatakan bambu runcing. Konon, ini adalah perang terbesar sepanjang sejarah Nusantara. (sumber : merdeka.com) Menurut KH. Wahab hasbullah prinsip hidup KH Hasyim Asyari yaitu : "berjuang terus dengan tiada mengenal surut, lelah dan istirahat". Salah satu prinsip semangat juang KH Hasyim Asy’ari di dasari dari hadist Rasulullah yaitu: “Demi Allah, jika mereka kuasa meletakkan matahari ditangan kananku dan bulan ditangan kiriku dengan tujuan agar aku berhenti dalam berjuang, aku tidak akan mau menerimanya bahkan nyawa taruhannya” (Al-Hadist). KHM Hasyim Asy’ari senantiasa mengingatkan kepada santri-santrinya untuk selalu mengikuti dan menjadikan tauladan dari perbuat Nabi Muhammad saw.

Ketika Kiai Hasyim dan Kiai Kholil Berebut Menjadi Murid

Sudah jadi pandangan umum jika di kalangan Nahdlatul Ulama(NU), K.H. Hasyim As’ari dipanggil dengan gelar “Hadratus Syaikh” (Maha Guru...